Buah Pikir, April, 2021

Benci Tak Memperturut Kemajuan Jaman

Oleh: Sg Wibowo,

Dunia melaju dengan cepat. Sepuluh tahun yang lalu orang masih sibuk menyimpan data file dalam keeping disket, dengan kapasitas muat yang sangat kecil. Saat ini orang tidak perlu repot-repot, dengan flashdisk ukuran kecil mereka dapat menyimpan data dengan kelipatan gigabytes. Padahal lima puluh tahun yang lalu, data yang dikirim sebuah modul pesawat angkasa Apollo seberat 20ton hanya berasal dari memori sebesar empat kilobyte.

Dalam dunia transportasi, laju jaman juga pesat. Elon Musk, miliarder pemilik perusahaan teknologi tinggi Tesla saat ini sudah berhasil menciptakan pesawat yang mampu menghubungkan New York dengan Paris hanya dalam 30 menit. Kemajuan-kemajuan ini tentu sangat luar biasa. Selain mampu memindahkan orang dan barang, juga mampu mengubah perilaku dan budaya manusia.

Untuk hal yang sederhana saja, telepon pintar telah menggiring individu untuk tidak lagi (mau) repot mencatat dan mengingat dari hal yang paling kecil sampai besar. Berapa orang yang masih mencatat dan mengingat nomor telepon kerabat atau relasinya? Apalagi dengan sistem cloud yang semakin memanjakan pemilik telepon pintar: datamu akan tersimpan aman selamanya dalam komputasi awan via surat elektronik. Bahkan sudah tidak adalagi yang tidak tersambung dengan telepon pintar kita saat ini, dari lembaga perbankan hingga pusat-pusat belanja dunia. Orang tidak perlu lagi membawa uang tunai, orang tidak perlu lagi beranjak dari kasurnya untuk membeli pakaian jenama dunia. Cukup dengan satu gawai pintar di tangan.

Perkembangan juga terjadi di dalam ilmu hayati, ilmu biologi. Penelitian-penelitian telah mendekati batas-batas yang oleh ilmuwan-ilmuwan sekian puluh tahun yang lalu tidak pernah terbayangkan. Dikatakan bahwa saat ini, untuk pertama kalinya dalam empat miliar tahun, umat manusia dalam proses menguasai rahasia evolusinya sendiri. Ketika teknologi kloning pertama kali dilakukan pada tahun 1972, para ilmuwan bersepakat untuk secara sukarela menghentikan upaya rekombinasi gen-gen hasil klon ke dalam DNA dari organisme lain. Mereka sadar bahwa konsekuensi teknologi ini sangatlah mengerikan.

Namun kesepakatan itu saat ini ditabrak dengan kloning yang dilakukan pada seekor monyet.  Inilah untuk pertama kalinya kloning diterapkan pada primata. Kloning yang dilakukan oleh Chinese Academy of Sciences ini menghasilkan dua monyet yang identik: Zhong-zhong dan Hua-hua. Ini kloning fenomenal setelah kloning pertama terhadap domba pada tahun 1996 yang dikenal dengan nama Dolly. Tabu telah dilanggar, batas telah dilewati.

Penemuan-penemuan itu ternyata tidak menghentikan segala upaya untuk membangun hal-hal yang lebih baru dan lebih maju. Industri-industri sedang menyiapkan teknologi yang tidak saja menggantikan manusia tetapi juga mengintegrasikan manusia dengan mesin dan teknologi komputer. Laporan utama majalah The Economist, 6 Januari 2018 tentang The next frontier menceritakan penemuan baru yang bisa menggabungkan otak dengan kerja komputer. Jaman ini memasuki era industri dengan basis siber, internet, komputasi awan (cloud computing), dan cognitive computing.

Sayangnya, kemajuan jaman yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak disertai dengan kemajuan dalam hubungan-hubungan manusia. Konflik-konflik yang berbasis pada kesukuan, ras, dan agama masih berlangsung dengan masif. Meskipun nilai-nilai kosmopolitan menjadi acuan dalam interaksi modern tetapi tetap saja prasangka-prasangka rasialis dan sektarian masih kokoh dalam benak dan laku manusia modern. Tengok saja industrui sepak bola yang masih meneriaki “hu-hu-hu” dan melempar pisang pada pemain-pemain bola kulit hitam. Atau dalam sektor jasa yang menempatkan mereka yang berkulit gelap sebagai pekerja kasar dan mereka yang berkulit putih sebagai pekerja kerah putih. Basis penempatan kerja pun belum semodern jamannya yaitu skill dan kognisi.

Penemuan teknologi faceprint yang bisa membaca kepribadian dan latar belakang personal manusia dari kontur mukanya (Nowhere to hide, The Economist 9 September 2017) apakah tidak mengarah pada pola rasisme sekian ratus tahun yang lalu? Pada tahun 1883, Francis Galton mengeluarkan ide tentang eugenic yaitu upaya untuk memperbaiki stok gen manusia, karena adanya pandangan tentang “keunggulan” dari satu kelompok tertentu – ras, bangsa, kelas sosial, atau jenis kelamin, melalui persoalan darah atau “keturunan yang baik”. Ide ini tidak saja melahirkan Undang-Undang Pemandulan di Amerika Serikat pada tahun 1930-an tetapi juga kerja-kerja “ilmiah” untuk membedah otak manusia (narapidana) yang dianggap cocok karena “telah menunjukkan agresivitas, perilaku destruktif, yang mungkin disebabkan oleh penyakit syaraf yang parah” (Alan Wood dan Ted Grant, 2006).

Tampaknya ide tentang “benci” yang pertama kali mewujud dalam dunia manusia pertama kali pada 3.200 tahun SM, yaitu ketika Qabil membunuh Habil, tidak pernah tergeser sedikit pun pada diri manusia. Anggapan bahwa manusia dengan segala perilakunya ditentukan oleh gen yang dibawanya tetap merupakan arus besar dalam cara pikir manusia modern. Superioritas berdasarkan atribut-atribut kesukuan, ras, dan agama, masih sedemikian popular. Meskipun penelitian ahli genetika populasi, Lucca Cavalli-Sforza, Paolo Menozzi, dan Alberto Piazza dalam The History and Geography of Human Genes telah mematahkan mitos bahwa aborigin Australia dan orang-orang sub-Sahara Afrika memiliki berbagai ciri-ciri tampilan yang sama persis seperti warna kulit dan bentuk tubuh sehingga dianggap berkerabat dekat. Tetapi gen mereka mengungkapkan kisah yang berbeda. Dari semua manusia, orang-orang Australia adalah yang paling jauh kekerabatannya dari orang-orang Afrika, dan paling dekat dengan tetangga mereka orang-orang Asia Tenggara. Ciri fisik manusia berbeda, misalnya warna kulit hitam dan putih, tak lebih sebagai adaptasi lingkungan.

Baru-baru ini hasil rekonstruksi para peneliti London’s Natural History Museum dan University College London terhadap sosok manusia modern awal yang menghuni Inggris sekitar 10.000 tahun yang lalu, yang dikenal dengan Cheddar Man, digambarkan bermata biru, kulit gelap, dan rambut keriwil hitam. Gambaran tersebut seharusnya menghilangkan superioritas ras, suku, dan bangsa, dalam hubungan antarmanusia. Nyatanya, yang terjadi berkebalikan; tetap saja ada teror dan genosida berbasis suku, agama, dan ras. Bom bunuh diri tentu tidak bisa dilihat sebagai milik dari satu agama saja. Rasisme bisa saja terjadi di negara yang mempunyai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mungkin saja memang mampu menciptakan manusia super yang multitasking dengan kecerdasan lebih tapi tetap tidak bisa menciptakan manusia nir-kebencian. []

*Pemerhati masalah sosial-politik

Bagikan